kategori-akhlak

Sabtu, 23 Januari 2016

Penyebab Maraknya Kesesatan

Pergulatan antara penganut kebenaran dan pengikut kebatilan adalah kepastian dari Allah Subhanahu wata’ala. Dengan ilmu dan kekuasaan-Nya yang sempurna Dia Subhanahu wata’ala telah menakdirkan terjadinya sampai datangnya hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang awal pergulatan tersebut, yaitu antara Bapak kita, Adam ‘Alaihissalam, dan Iblis la’natullah ‘alaih. Iblis telah menyatakan permusuhan kepada manusia di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),
Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benarbenar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya.”  (Dan Allah berfirman), “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buahbuahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim.”
Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepadakeduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan setan berkata, “Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,” maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (al-A’raf: 16—22)

Kepastian ini juga akan dihadapi oleh seluruh nabi setelah Adam  beserta para pengikut mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
 “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan  (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indahindah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka adaadakan.” (al-An’am: 112)
Terlebih lagi pergulatan yang harus dihadapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melawan pembela kebatilan sehingga Allah Subhanahu wata’alamengibur beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman- Nya (yang artinya),
“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalimitu mengingkari ayat-ayat Allah. Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (al-An’am:33—34)
Kita meyakini bahwa perseteruan yang terjadi antara ahlul haq (pengikut kebenaran) dan ahlul batil (pengikut kebatian) di dunia fana ini terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala dan disertai oleh hikmah- Nya yang sempurna karena Allah Subhanahu wata’ala adalah Yang Mahabijaksana. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan hikmah tersebut dalam firman-Nya,
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرً
 “Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (al-Furqan:20)
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
 “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (al-Baqarah: 251)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan, “Di antara hikmah Allah menjadikan musuh-musuh bagi para nabi dan adanya pembela kebatilan yang mengajak pada kebatilannya adalah sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, akan terpisahkan antara yang jujur dan yang berdusta, yang berakal sehat dan yang jahil, serta yang melihat (dengan mata hatinya) dan yang buta. Selain itu, hikmah (adanya ujian dan cobaan tersebut) adalah penjelasan dan penerangan tentang kebenaran karena kebenaran akan bercahaya dan tampak jelas saat kebatilan menghadang dan memeranginya. Saat itu terpisahkanlah dalil-dalil dan saksisaksi yang menunjukkan pada kebenaran tersebut beserta hakikatnya, dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh kebatilan. Hal ini (terpisahnya kebenaran dan kebatilan) termasuk hal yang paling dicari oleh para hamba.” (Taisir al-Karimirrahman hlm. 270)
Dua Sebab Maraknya Ideologi Sempalan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُم
“Sabarlah kalian karena tidak datang sebuah masa kecuali yang setelahnya lebih jelek dari yang sebelumnya, sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian.” (HR.al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ
“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat adalah dicabutnya ilmu dan merebaknya kebodohan.” (Muttafaqunalaih dari Anas bin Malik)
Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain,
إِنَّ اللَّهِ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah 'azzawajalla tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan sekaligus. Akan tetapi, Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama (ahli ilmu).Ketika Dia tidak menyisakan seorang alim pun, umat manusia akan menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka, kemudian para pemimpin itu ditanya. Mereka pun berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dari Abdullah binAmr radhiyallahu ‘anhuma)
Tiga hadits di atas menunjukkan bahwa merebak dan semaraknya berbagai kesesatan dalam agama ini disebabkan oleh jauhnya umat manusia dari ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ahlinya (para ulama). Lebih jelasnya, kedua sebab itu adalah sebagai berikut.
1. Kebodohan
Kebodohan terhadap syariat Islam yang mulia dan sempurna adalah penyakit yang membahayakan dan membinasakan. Namun, tidak ada yang menyadari bahwa kebodohan itu adalah penyakit, selain orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَلَا سَأَلُوا إِذَا لَمْ يَعْلَمُوا، إِنَّمَا شِفَاءُ الْعَيِّ السُّؤَالُ
“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu? Hanyalah obat ketidaktahuan (kebodohan) adalah bertanya.” ( HR. Abu Dawud dan
dinyatakan sahih oleh al-Albani) Asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafizhahullah berkata (Bidayatul Inhiraf hlm. 133), “Kebodohan adalah musuh semua risalah yang dibawa oleh para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memisalkan orang yang bodoh sebagai makhluk yang paling jelek yang berjalan di muka bumi ini. Firman-Nya,
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
 “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (al-Anfal: 22)
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahmenjelaskan akibat jelek dari kebodohandalam kitabnya, Miftah Dar as- Sa’adah (1/382), “Pohon kejahilan akan membuahkan seluruh kejelekan, kezaliman, permusuhan (tanpa alasanyang benar), ….
Seluruh kejelekan dan kerusakan yang telah dan akan terjadi di alam semesta ini hingga hari kiamat dan setelahnya (yakni di akhirat) disebabkan oleh penyelisihan terhadap apa yang dibawa oleh para rasul  baik dalam hal ilmu maupun amalan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya pelopor dan perintis mazhab Syiah Rafidhah adalah seorang zindiq kafir yang memusuhi agama Islam dan kaum muslimin. Dia bukan ahli bdi’ah yang sesat karena takwil, seperti Khawarij dan Qadariyah. Meski demikian, keyakinan-keyakinan Syiah Rafidhah laris di kalangan kaum muslimin yang masih memiliki iman karena sangat bodohnya mereka.” (Minhajus Sunnah 4/363)
2. Jauhnya umat dari ulama syariat
Allah Subhanahu wata’ala menjadikan para ulama syariat sebagai para pemimpin yang harus ditaati dalam urusan yang ma’ruf sebagaimana dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa: 59)
Mereka adalah tempat untuk mengembalikan dan mengadukan seluruh problem umat manusia, terkhusus dalam masalah agama. Umat senantiasa menunggu dan mengharapkan bimbingan dan nasihat mereka. Sebab, mereka adalah orang yang paling memahami syariat dan hal-hal yang akan bermanfaat bagiumat, baik yang terkait dengan urusan dunia maupun agama. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
 “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa: 83)
Di samping itu, mereka adalah orang yang paling peduli dan penyayang terhadap umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي
“Permisalanku dengan kalian ibarat seorang yang menyalakan api (di malam hari). Lalu datanglah serangga dan kupu-kupu ingin masuk ke dalamnya dalam keadaan dia menghalanginya agar tidak masuk ke dalam api. Dan aku memegangi pinggang kalian (supaya kalian selamat) dari api (neraka), namun kalian senantiasa berusaha melepaskan diri dari kedua tanganku.” (HR. Muslimdari Jabir radhiyallahu ‘anhu)
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullahberkata, “Para ulama lebih sayang terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dari pada ayah dan ibu mereka.” Beliau rahimahullahditanya, “Bagaimana itu terjadi?” Jawab beliau, “Ayah dan ibu mereka menjaga mereka (agar selamat) dari api dunia,sedangkan para ulama menjaga mereka (sehingga selamat) dari api neraka.”(Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits hlm. 167)
Itulah kedudukan mulia dan urgensi keberadaan ulama di tengah-tengah umat yang tergambarkan dalam beberapa ayat dan hadits. Lantas apa yang terjadi ketika umat jauh dari mereka? Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang umat yang jauh dari ilmu dan ulama dalam hadits Abdullah bin Amr di atas. Disebutkan bahwa umat akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pimpinan mereka sehingga mereka sesat dan menyesatkan umat. Tidak ada musibah yang lebih dahsyat yang menimpa sebuah umat selain jauhnya mereka dari ilmu dan ulama sehingga rusaklah urusan dunia dan agama mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau bukan karena adanya ulama, sungguh umat manusia akan seperti binatang ternak.” (Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits)
Ada dua kemungkinan yang menyebabkan umat jauh dari ulama syariat.
a. Sedikitnya jumlah ulama dibandingkan dengan kebutuhan umat.
Hal ini adalah salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma di atas. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para dai yang mengajak umat kepada berbagai kesesatan, seperti sufi, hizbiyah (fanatisme golongan), politik, dan sebagainya.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Hati-hatilah kalian dari para dai yang menyeru kepada kesesatan. Mereka memburu para pemuda dan berusaha memutuskan hubungan para pemuda itu dengan keluarga dan masyarakatnya. Lantas mereka mencekoki para pemuda tersebut dengan berbagai pemikiran sesat. Akhirnya, Anda akan dapati seorang pemuda terpisah dari kedua orang tua dan keluarganya,lalu menjauh dari masjid-masjid kaum muslimin, shalat Jumat,dan shalat jamaah. Setelah itu tidak diketahui lagi di mana dia, sampai terdengar berita bahwa dia terbunuh bersama perusuh atau ditangkap bersama mereka oleh aparat. Inilah buah yang akan dipetik apabila para pemuda tidak memedulikan dan mengikuti nasihat para ulama.
Mereka tidak mau mengambil sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan untuk berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin, penguasa mereka, berbakti dan membantu kedua orang tua, dan menjaga shalat Jumat dan shalat jamaah. Tatkala mereka tidak memerhatikan hal-hal ini, niscaya mereka akan jatuh ke tangan musuh mereka. Musuh-musuh itu akan mencari mereka, lalu mencekoki dengan doktrin-doktrin yang akan menghancurkan kehidupan mereka. Kalaupun sebagian mereka masih tersisa, akan susah sekali diobati karena pemikirannya sudah rusak dan sudah dicuci otak. Mereka layaknya orang yang terkena penyakit yang belum ada obatnya semacam kanker atau lainnya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 36)
b. Dijatuhkannya kewibawaan para ulama di hadapan umat Islam dengan berbagai cara.
Di antara cara yang ditempuh adalah menjuluki ulama syariat sebagai ulama sulthan (pemerintah), ulama haid dan nifas yang tidak paham realitas, ulama antijihad, dan sebagainya. Kalau kita perhatikan, cara yang mereka lakukan untuk menjauhkan umat dari para ulamanya adalah cara-cara orang kafir yang menentang dakwah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya,
كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ (52) أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)
Bahkan, ketika Fir’aun berusaha menghadang dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, dia mengatakan kepada umatnya,
ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ
 “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)
Demikian pula, cara inilah yang ditempuh oleh ahli bid’ah untuk menjauhkan umat dari para ulama. Cara ini mereka warisi dari generasi ke generasi. Karena itu, al-Imam Abu Utsman Ismail ash-Shabuni mengatakan, “Ciri-ciri ahli bid’ah itu tampak sekali pada orangnya. Ciri dan tanda yang paling jelas adalah sangat kerasnya permusuhan, pelecehan, dan penghinaan mereka terhadap para pembawa hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yakni para ulama ahli hadits).” (‘Aqidatu as-Salaf hlm. 101)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kaum muslimin wajib menghormati para ulama karena mereka adalah pewaris para nabi. Melecehkan mereka berarti melecehkan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ilmu syariat yang mereka bawa. Barang siapa berani melecehkan ulama, tentu lebih berani melecehkan kaum muslimin selain mereka. Para ulama adalah orang-orang yang wajib dihormati karena ilmu dan kedudukan mereka di tengah-tengah umat, serta tanggung jawab yang mereka emban demi kebaikan Islam dan kaum muslimin. Apabila para ulama sudah tidak dipercaya, siapa lagi yang akan dipercaya? Apabila kepercayaan umat terhadap para ulama telah hilang, kepada siapa lagi kaum muslimin bisa mengadukan berbagai problem mereka? Siapa lagi yang dipercaya menjelaskan hukum-hukum syariat? Ketika semua itu terjadi, umat pun akan terlantar, kekacauan pun akan tersebar.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 188)
Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita semua untuk senantiasa ikhlas, sabar, dan istiqamah untuk menuntut ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman salafus saleh, di bawah bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, agar selamat jiwa kita dan keluarga kita serta seluruh kaum muslimin. Amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin

AKHLAK TERCELA DAN AKHLAK TERPUJI

PENGERTIAN AKHLAK
Definisi akhlak secara bahasa berarti perangai, watak dasar, kebisaan, kelaziman dan peradaban yang baik. Sedangkan akhlak menurut istilah adalah sebagaimana menurut Ibnu Miskawaih (w.421 H/1030 M) yaitu : 
 
حَالــــٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ الَهَا إِلَى أَفْعَا لِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلاَ رُوِيَةٍ
 
Artinya : “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”. (Drs. H. Abudin Nata, 2010)
Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan ” Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan.
Sedangkan menurut pendekatan secara terminologi, berikut ini beberapa pakar
mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:
1.      Ibnu Miskawaih
Bahwa akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahulu.6
2.      Imam Al-Ghazali
Akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbanagan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara’, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk.7
3.      Prof. Dr. Ahmad Amin
Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak. Menurutnya kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah imbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya, Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan besar inilah yang bernama akhlak.
Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa seluruh definisi akhlak sebagaimana tersebut diatas tidak ada yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, yaitu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan.
Jadi, akhlak islam bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati bagi penyakit sosial dari jiwa dan mental, serta tujuan berakhlak yang baik untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
MACAM-MACAM AKHLAK
Secara garis besar akhlak dibagi dalam dua bagian, yaitu akhlak baik (al-akhlak al-karimah) dan akhlak buruk (al-akhlak al-mazmumah).
Secara teoritas macam-macam akhlak berinduk kepada tiga bagian yaitu hikmah (bijaksana), syaja’ah (perwira atau kesatria) dan iffah (menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Ketiga macam induk akhlak ini muncul dari sikap adil, yaitu sikap pertengahan atau seimbang dalam mempergunakan tiga potensi rohani yang terdapat dalam diri manusia, yaitu ‘aql (pemikiran) yang berpusat di kepala, ghodob (amarah) yang berpusat di dada, dan nafsu syahwat (dorongan seksual) yang berpusat di perut. Akal yang digunakan secara adil akan menimbulkan hikmah, sedangkan amarah yang digunakan secara adil akan menimbulkan sikap perwira, dan nafsu syahwat yang digunakan secara adil akan menimbulkan sikap iffah yaitu dapat memelihara diri dari perbutan dosa dan maksiat. Dengan demikian inti akhlak pada akhirnya bermuara pada sikap adil dalam mempergunakan potensi rohaniah yang dimiliki manusia.
1.      AKHLAK TERPUJI (AL-AKHLAK AL-KARIMAH)
Akhlak Al-karimah atau akhlak yang mulia sangat amat jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
A.     Akhlak Terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji demikian Agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan menjangkau hakekatnya.
B.     Akhlak terhadap Diri Sendiri
Akhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebgai ciptaan dan amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Contohnya: Menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian jiwa, hidup sederhana serta jujur dan hindarkan perbuatan yang tercela.
C.     Akhlak terhadap sesama manusia
Manusia adalah makhluk social yang kelanjutan eksistensinya secara fungsional dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu, ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Islam menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, Karena ia berjasa dalam ikut serta mendewasaan kita, dan merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukan dengan memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan dan menghargainya.
Berdasarkan petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang terpuji, di antaranya:
a)      Ikhlas
Prof. Dr. Hamka mendefinisikan ikhlas ialah bersih, tidak ada campuran, ibarat emas adalah emas tulen (asli) tidak bercampur perak sedikitpun, maksudnya ikhlas berarti murni dan bersih dari sifat tamak, riya, dan sombong kepada siapapun juga.
b)      Taat
Taat artinya telah memenuhi dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah, dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah. Taat dalam hal ini juga dapat disebut dengan taqwa kepada Allah. Cara menaati Allah dapat dilakukan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan didalam Al-Qur’an dan mencontoh prilaku Rasulullah SAW.
c)      Khauf
Khauf artinya bersikap takut dan khawatir. Akhlak khauf terhadap Allah artinya senantiasa  takut dan khawatir terhadap Allah SWT akan azab-Nya apabila melanggar larangan-Nya karena Allah selalu mengawasi segala perbuatan hamba-hamba-Nya.
d)     Tobat
Tobat artinya meninggalkan perbuatan salahj atau dosa dengan penyesalan. Akhlak tobat kepada Allah artinya sikap untuk meninggalkan sifat dan perbuatan dosa dengan penyesalan diiringi niat untuk tidak melakukan perbuatan dosa itu lagi.
Jadi, manusia menyaksikan dan menyadari bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang tidak dapat terbilang dan karunia kenikmatan yang tidak bisa dihitung banyaknya, semua itu perlu disyukurinya dengan berupa berzikir dengan hatinya. Sebaiknya dalm kehidupannya senantiasa berlaku hidup sopan dan santun menjaga jiwanya agar selalu bersih, dapat terhindar dari perbuatan dosa, maksiat, sebab jiwa adalah yang terpenting dan pertama yang harus dijaga dan dipelihara dari hal-hal yang dapat mengotori dan merusaknya. Karena manusia adalah makhluk sosial maka ia perlu menciptakan suasana yang baik, satu dengan yang lainnya saling berakhlak yang baik.
2.      AKHLAK TERCELA (AL-AKHLAK AL-MAZMUMAH)
Akhlak Al-mazmumah (akhlak yang tercela) adalah sebagai lawan atau kebalikan dari akhlak yang baik seagaimana tersebut di atas. Dalam ajaran Islam tetap membicarakan secara terperinci dengan tujuan agar dapat dipahami dengan benar, dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya. Berdasarkan petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang tercela, di antaranya:
A.     Berbohong
Ialah memberikan atau menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
B.     Takabur (sombong)
Ialah merasa atau mengaku dirinya besar, tinggi, mulia, melebihi orang lain. Pendek kata merasa dirinya lebih hebat.
C.     Dengki
Ialah rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain.
D.    Bakhil atau kikir
Ialah sukar baginya mengurangi sebagian dari apa yang dimilikinya itu untuk orang lain.
Sebagaimana diuraikan di atas maka akhlak dalam wujud pengamalannya di bedakan menjadi dua: akhlak terpuji dan akhlak yang tercela. Jika sesuai dengan perintah Allah dan rasulnya yang kemudian melahirkan perbuatan yang baik, maka itulah yang dinamakan akhlak yang terpuji, sedangkan jika ia sesuai dengan apa yang dilarang oleh Allah dan rasulnya dan melahirkan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka itulah yang dinamakan akhlak yang tercela.
  
KESIMPULAN
Akhlak  adalah suatu kebiasaan sikap dan perbuatan spontan dalam kehidupan sehari-hari yang telah tertanam dalam jiwa seseorang. Akhlak yang yang terpuji adalah segala kebiasaan perilaku yang baik, sedangkan akhlak yang tercela sebaliknya. Manusia merupakan khalifah dimuka bumi ini, Allah SWT pun mengkaruniakan kepada manusia kesempurnaan melebihi ciptaan Allah yang lain, meskipun dalam kesempurnaan tersebut juga terkandung keterbatasan.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1997)
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), Cet ke-9
http://al-poenya.blogspot.co.id/2011/11/resume-buku-akhlak-tasawuf_12.html
https://copypst.wordpress.com/makalah-akhlaq-buat-you/

http://maryamkim177.blogspot.co.id/2014/04/akhlak-terpuji-dan-tercela-kepada-allah.html

HUBUNGAN DOSA, KEMAKSIATAN DAN AKHLAK DENGAN AQIDAH

Apakah terjerumusnya ke dalam dosa merupakan bukti akan rusaknya akidah atau ada syubhat dalam aqidah?

Alhamdulillah
Allah telah menyanjung akhlak –yang pada dasarnya merupakan  ketaatan dan menjadi sebab ketaatan – sebagi bagian dari agama, bahkan ia adalah agama itu sendiri.
Allah Ta'ala telah memuji  nabi Muhammad sallalahu alaihi wa sallam yang berakhlak mulia, sebagaiamana firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Ibnu Abas radhiallahu anhuma menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah Islam. Beliau  berkata, “Yakni sesungguhnya engkau (Muhammad) dalam agama yang agung yaitu islam.” (HR. Thabari dalam tafsirnya, 12/179)
Yang benar adalah tidak bahwa akhlak tidak terlepas dari agama. Fairuzabadi dalam kitabnya Bashair Dzawi At-Tamyiz, 2/568 mengatakan,”Ketahuilah bahwa agama seluruhnya adalah akhlak. Siapa yang bertambah akhlaknya, maka bertambahlah agama pada diri anda."
Di antara yang tidak meragukan lagi, adanya keterkaitan kuat antara akidah dengan prilaku dan akhlak baik dari sisi negative maupun positif. Hal itu akan jelas dalam pembahasan berikut ini:

1.      Sesungguhnya seorang muslim yang meyakini bahwa Allah mendengar dan melihat serta memperhatikan yang tersembunyi. Jika kuat pada sisi ini, maka dia tidak akan berakhlak dan melakukan perbuatan yang dapat melemahkan keyakinannya pada masalah ini.
Yang menunjukkan akan hal itu adalah sebagai berikut,
Firman Allah,
“Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisaa: 128)
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (Q. An-Nisaa: 135)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisaa: 58)

2.      Seorang muslim yang mempercayai akan janji Allah Ta’ala dan ancaman-Nya, hal itu menjadi pendorong pada keyakinannya untuk melakukan apa yang disenangi untuk Allah Ta’ala dan menjauhi dari semua yang dibenci-Nya Azza Wa Jalla.
Dari Abu Hurairah, beliau berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Tirmizi, 1162 dan Abu Daud, 4682, dia mengatakan, haditsnya hasan shahih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Telah diketahui bahwa makhluk yang paling dicintai adalah orang mukmin. Kalau dia paling sempurna imannya, maka paling baik akhlaknya. Maka yang paling besar dicintai-Nya adalah yang paling bagus akhlaknya. Akhlak adalah agama sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Ibnu Abbas mengatakan, mempunyai agama nan agung. Begitu juga Soyan bin Uyainah dan Ahmad bin Hanbal menafsirkan seperti itu dan selain dari keduanya. Sebagaimana yang telah kami jelaskan selain di tempat ini. (Al-Istiqamah, 442)
Al-Mubarokfuri rahimahulah mengatakan, “Perkataan ‘Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya’ kata ‘Kholqun atau Khuluqun’ dengan didhomma dan disukun huruf lamnya. Karena kesempurnaan iman, mengharuskan berbudi pekerti baik dan berbuat baik kepada seluruh orang.” Tuhfatul Ahwadzi, 4/273.

3.      Sesungguhnya kekuatan keimanan mendorong untuk melakukan amal saleh dan menahan diri dari daki kemaksiatan dan dosa-dosa. Yang menunjukkan akan hal itu adalah, hadits dari Abu Hurairah sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah orang yang berzina ketika melakukan perzinaan dia dalam kondisi beriman. Dan tidaklah pencuri ketika dia mencuri dia dalam kondisi beriman. Tidak juga peminum (khamar) ketika dia meminum dalam kondisi beriman." (HR. Bukhari, no. 2334 dan Muslim, 57)
Dan dari Abu Suraikh sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa salla bersabda, “Demi Allah belum beriman (secara sempurna), demi Allah belum beriman, demi Allah belum beriman. Beliau melanjutkan, “Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari, no. 5670)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma sesungguhnya Rasulullah sallallahu alihi wa sallam melewati seseorang dari kalangan Anshar, dia menasehati saudaranya tentang rasa malu. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia, karena rasa malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Bukhari, no. 24 dan Muslim, no. 36)
Malik bin Dinar rahimahullah, dia berkata, “Iman itu tampak  lemah dan kecil di dalam seperti tunas tumbuhan. Jika pemiliknya memperhatikannya dan menyiram dengan ilmu bermanfaat dan amal saleh serta menyingkirkan belukar dan apa yang melemahkannya, maka  dia akan tumbuh dan terus berkembang. Sehingga dia menjadi induk, cabang, buah dan naungan tanpa ada batasnya sampai seperti gunung. Kalau pemiliknya membiarkan tanpa diperhatikan, maka akan datang seekor kambing yang memakannya atau anak kecil yang mengambilnya. Kalau semakin banyak belukarnya, maka akan melemahkan, membinasakan atau membuatnya kering. Begitulah keimanan."
Khaitsamah bin Abdurrahman berkata, “Keimanan akan menjadi gemuk di tempat subur dan akan kurus di tempat kering. Tempat suburnya adalah dengan beramal saleh sementara tempat keringnya adalah dosa dan kemaksiatan,” (Dikutip dari Ibnu Taimiyah, kitab Al-Iman, hal. 213)

4.      Beriman dengan qadha dan takdir Allah dapat menghalangi akhlak jelek dan kemaksiatan. Karena agama sangat memperingatkan dan mengancam perbuatan tersebut, seperti histeris, menyobek baju, mencambak rambut dan  berteriak-teriak (Niyahah). Sebaliknya, keimanan mengajak pemiliknya untuk mempunyai akhlak (mulia) yang agung, seperti sabar, ridha dan mengharap pahala.
Dari Suhaib Ar-Rumi radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ  (رواه مسلم، رواه  2999 )

“Sangat mengherankan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya itu baik. Hal itu tidak ada melainkan untuk orang mukmin. Jika ditimpa kebaikan, maka dia bersyukur dan hal itu baik untuknya. Jika ditimpa keburukan, dia bersabar. Dan hal itu baik untuknya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Dalam sunan Abu Daud, 47010, Ubadah bin Shamit menasehati anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya engkau belum mendapatkan hakikat keimanan sebelum engkau meyakinin bahwa apa yang (ditakdirkan akan) menimpamu tidak akan meleset. Dan apa yang (ditakdirkan akan) meleset darimu tidak akan menimpamu . Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ ، فَقَالَ لَهُ : اكْتُبْ !! قَالَ : رَبِّ ، وَمَاذَا أَكْتُبُ ؟!! قَالَ : اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ !! يَا بُنَيَّ ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي !! (صححه الألباني)

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berkepada kepadanya; “Tulislah!. Berkata (pena), “Wahai Tuhanku apa yang akan aku tulis?" Berkata (Allah), “Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat.”
(Ubadah bin Shamit berkata), "Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dunia tidak (berkeyakinan seperti ini) maka dia bukan dari (golonganku).” (Dishahihkan oleh Al-Albany)

5.      Sesungguhnya agama banyak menganjurkan ketaatan dan menekankan adanya kaitan dengan keimanannya kepada Allah dan hari akhir. Begitu pula agama mengharamkan kemaksiatan dan (dosa) yang dapat menjerumuskannya pada pengingkaran terhadap keimanan kepada Allah dan hari kiamat. Yang menunjukkan akan hal itu adalah:
a.      Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaknya dia menghormati tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari, no.  5672 dan Muslim, no. 47)
b.      Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dibolehkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sejauh tiga mil (atau lebih), kecuali dia  bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no.  106, Muslim, no. 1338 dan redaksi darinya)
c.      Dari Ummu Habibah radhiallahu anha berkata, aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung lebih dari tiga hari kecuali untuk suaminya, (yaitu) empat bulan sepuluh hari.” (HR.. Bukhari, no.  1221 dan Muslim, no. 1486)

6.      Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam sunnahnya, bahwa rusaknya keyakinan –seperti kenifakan- menjurus kepada kerusakan akhlak dan amal. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga, ketika berbicara berbohong, ketika berjanji tidak ditepati dan ketika diberi amanah dikhianati.” (HR. Bukhari, no. 33 dan Muslim, no. 5)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Orang yang menyalahi ahli hadits, mereka kemungkinan akan rusak amalnya. Baik karena keyakinan jelek dan kenifakan atau karena penyakit hati dan lemah imannya. Di antara mereka ada yang meninggalkan kewajiban dan melanggar aturan serta meremehkan hak-hak dan kerasnya hati yang tampak oleh setiap orang. Kebanyakan guru mereka dituduh (dengan melakukan) sesuatu yang besar. Meskipun di antara mereka terkenal dengan zuhud dan ibadahnya. Dalam kezuhudan dan ibadahnya sebagian orang awam dari kalangan ahlus sunnah itu lebih bagus daripada apa yang ada padanya.
Telah diketahui bahwa ilmu itu merupakan landasan amal, keabsahan asal mengharuskan keabsahan cabang. Seseorang tidak akan mengalami kerusakan amal kecuali karena dua hal; karena kebutuhan atau ketidaktahuan (bodoh). Orang  yang mengetahui buruknya sesuatu dan tidak memerlukannya, tidak akan melakukannya. Kecuali kalau hawa nafsunya mengalahkan akalnya, dan telah dikuassi kemaksiatan. Dan hal itu merupakan bentuk dan macam lain lagi." (Majm Fatawa, 4/53)
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki urusan kita semua. Dan diberi petunjuk ucapan, perbuan dan akhlak yang terbaik.
Wallahu a'lam .

MENGENAL KONSEP AKHLAK DALAM ISLAM

SUBSTANSI  KOMPETENSI :


  1. Menjelaskan tentang Konsep Akhlak Islam
  2. Menjelaskan tentang Sumber Akhlak
  3. Menjelaskan tentang Hubungan Akhlak dengan Aqidah
  4. Menjelaskan tentang Ciri dan Macam-Macam Aklakul Karimah
  5. Menjelaskan tentang Ancaman Akhlak dalam Kehidupan Modern

PENGANTAR
Akhlak merupakan salah satu dari pilar ajaran Islam yang memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari proses menerapkan aqidah dan syariah/ibadah. Ibarat pohon, akhlak merupakan buah kesempurnaan dari pohon tersebut setelah akar dan batangnya kuat. Jadi, tidak mungkin akhlak ini akan terwujud pada diri seseorang jika dia tidak memiliki aqidah dan syariah yang baik. Akhir-akhir ini istilah akhlak lebih didominasi istilah karakter yang sebenarnya memiliki esensi yang sama, yakni sikap dan perilaku seseorang.
Nabi Muhammad saw. dalam salah satu sabdanya mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak mulia di tengah-tengah masyarakat. Misi Nabi ini bukan misi yang sederhana, tetapi misi yang agung yang ternyata untuk merealisasikannya membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni lebih dari 22 tahun. Nabi melakukannya mulai dengan pembenahan aqidah masyarakat Arab, kurang lebih 13 tahun, lalu Nabi mengajak untuk menerapkan syariah setelah aqidahnya mantap. Dengan kedua sarana inilah (aqidah dan syariah), Nabi dapat merealisasikan akhlak yang mulia di kalangan umat Islam pada waktu itu.
Tujuan dari kajian tentang akhlak ini adalah agar para mahasiswa memiliki pemahaman yang baik tentang akhlak Islam (moral knowing), ruang lingkupnya, dan pada akhirnya memiliki komitmen (moral feeling) untuk dapat menerapkan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari (moral action). Dengan kajian ini diharapkan mahasiswa dapat memiliki sikap, moral, etika, dan karakter keagamaan yang baik yang dapat dijadikan bekal untuk mengamalkan ilmu yang ditekuninya di kehidupannya kelak di tengah masyarakat.

PENGERTIAN AKHLAK 
Secara etimologi, istilah Akhlak berasal dari bentuk jamak khuluk yang berarti watak, tabiat, perangai dan budi pekerti. Imam al-Ghazali memberi batasan khuluk sebagai : “Khuluk adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa pertimbangan dan pemikiran mendalam”. Dari pengertian ini, suatu perbuatan dapat disebut baik jika dalam melahirkan perbuatan-perbuatan baik itu dilakukan secara spontan dan tidak ada paksaan atau intervensi dari orang lain.
Ibnu Miskawaih dalam kitab Tahdzibul Akhlak menjelaskan bahwa “khuluk ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan tanpa pertimbangan dan pemikiran”. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa gerak jiwa meliputi dua hal. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak seperti adanya orang yang mudah marah hanya karena masalah sepele atau tertawa berlebihan karena mendengar berita yang tidak memprihatinkan. Kedua, keadaan jiwa yang tercipta melalui kebiasaan, atau latihan. Pada awalnya keadaan tersebut terjadi karena dipikirkan dan dipertimbangkan, namun pada tahapan selanjutnya keadaan tersebut menjadi satu karakter yang melekat tanpa dipertimbangkan dan dipikirkan masak-masak. Oleh karena itu, pendidikan akhlak sangat diperlukan untuk mengubah karakter manusia dari keburukan ke arah kebaikan.
HUBUNGAN ANTARA AKIDAH DENGAN AKHLAK 
Sesuai dengan pengertian di atas, akhlak merupakan manifestasi iman, Islam dan Ikhsan sebagai refleksi sifat dan jiwa yang secara spontan dan terpola pada diri seseorang sehingga melahirkan perilaku yang konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasarkan keinginan tertentu. Semakin kuat dan mantap keimanan seseorang, semakin taat beribadah maka akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan demikian, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan ibadah dan tidak pula dapat dipisahkan dengan akidah karena kualitas akidah akan sangat berpengaruh pada kualitas ibadah yang kemudian juga akan sangat berpengaruh pada kualitas akhlak.
 



Akidah dalam ajaran Islam merupakan dasar bagi segala tindakan muslim agar tidak terjerumus kedalam perilaku-perilaku syirik. Syirik disebut sebagai kezaliman karena perbuatan itu menempatkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya. Oleh karena itu muslim yang baik akan menjaga segala ryang memiliki akidah yang benar, ia akan mampu mengimplementasikan tauhid itu dalam bentuk akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Allah berfirman dalam surat Al-An’am (06) : 82 :
Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang tahu bersyukur, sehingga perbuatan mereka senantiasa sesuai dengan petunjuk Allah. Inilah yang dimaksud dengan akhak mulia. Dengan demikain ada hubungan yang amat erat antara akidah dengant akhlak, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan.
SUMBER AKHLAK 
Pembicaraan tentang Akhlak berkaitan dengan persoalan nilai baik dan buruk. Oleh karena itu ukuran yang menjadi dasar penilaian tersebut harus merujuk pada nilai-nilai agama Islam. Dengan demikian, ukuran baik buruknya suatu perbuatan harus merujuk pada norma-norma agama, bukan sekedar kesepakatan budaya. Kalau tidak demikian, norma-norma akan berubah seiring dengan perubahan budaya, sehingga sesuatu yang baik dan sesuai dengan agama bisa jadi suatu saat dianggap buruk pada saat bertentangan dengan budaya yang ada.
Dalam Islam, akhlak menjadi salah satu inti ajaran. Fenomena ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat al–Qalam (4) : 
Artinya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Keseluruhan akhlak Rasulullah ini juga diungkapkan oleh Aisyah r.a. saat ditanya tentang akhlak Nabi. Saat itu Aisyah berkata : “Akhlak Nabi adalah Al Qur’an”. Demikian juga disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab (33) : 21.
Artinya : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dengan demikian bagi umat Islam, untuk menunjuk siapa yang layak dicontoh tidak perlu sulit sulit, cukuplah berkiblat kepada akhlak yang ditampilkann oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis dinyatakan : “orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah). Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan oleh at Turmudzi dari Jabir r.a., Rasulullah menyatakan : “Sungguh di antara yang paling aku cintai, dan yang paling dekat tempat duduknya dengan aku kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kamu”.
Merujuk pada paparan di atas, sumber akhlak bagi setiap muslim jelas termuat dalam Al Qur’an dan hadis Nabi. Selain itu, sesuai dengan hakekat kemanusiaan yang dimilikinya, manusia memiliki hati nurani (qalbu) yang berfungsi sebagai pembeda antara perbuatan baik dan buruk. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Wabishah tatkala beliau bertanya tentang kebaikan (al-birr) dan dosa (al-itsm) dalam dialog seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad sebagai berikut :
“Hai Wabishah, bertanyalah kepada hatimu sendiri, kebaikan adalah sesuatu yang jika kamu lakukan, jiwamu merasa tentram, sedang dosa adalah sesuatu yang jika kamu lakukan, jiwamu bergejolak dan hatimu pun berdebar debar meskipun orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kamu rasakan).”
Berkaitan dengan hati nurani, muncul persoalan, dapatkah dijamin bahwa hati nurani selalu dominan dalam jiwa manusia sehingga suaranya selalu didengar, mengingat dalam diri manusia terdapat dua potensi yang selalu bertolak belakang yaitu potensi yang mengarah kepada kebaikan (taqwa) dan potensi yang mengarah pada keburukan (al-fujur), dimana kekuatan yang lebih menonjol tentunya menjadi dominan dalam mempengaruhi keputusan suatu persoalan.
Oleh karena itu, agar hati nurani seorang muslim selalu dalam kondisi kepada kebaikan, maka ia harus selalu disucikan. Seorang muslim perlu menjaga rutinitas dan kontinuitas ibadah, berusaha untuk selalu mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah, membaca sejarah orang orang terdahulu serta selalu berusaha untuk saling menasehati dengan sesamanya.
CIRI DAN MACAM-MACAM AKHLAKUL KARIMAH 
Dalam Al Qur’an dan hadis banyak dijelaskan bagaimana perilaku (akhlak) yang sesuai dengan aturan Islam. Seperti misalnya di dalam Al Qur’an surat Asy-Syams (91) : 7-10 yang berbunyi :
Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa barang siapa ingin mencapai kebahagiaan hidup, hendaknya dia mensucikan jiwanya dari sifat sifat tercela dan berusaha memiliki ketakwaan yang tinggi. Artinya, dia harus selalu berusaha meningkatkan ketakwaan dengan cara yang benar.
Ayat lain di dalam Al Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk menahan hawa nafsunya, sebagaimana terdapat dalam surat an-Naazi’at (79) : 40-41 yang berbunyi :
Artinya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”

Dalam Al Qur’an surat Ali Imron (3) : 200, Allah swt berfirman
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Ayat di atas mengajarkan kepada manusia untuk tetap tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang menimpa dirinya dalam kehidupannya.
Al Qur’an surat at-Taubah (09) : 119 mengajarkan kepada manusia untuk bertakwa dan jujur dalam setiap perbuatan.
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Jujur hendaknya tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga terhadap diri sendiri. Salah satu perilaku jujur misalnya saat menjalani ujian semester. Sebagai seorang muslim, hendaklah mahasiswa tidak tergoda untuk berlaku curang dengan cara menyontek atau menekan dosen yang mengajar untuk memberi nilai yang diinginkannya, padahal tidak sesuai dengan kemampuan dirinya.
Dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja profesional sesuai dengan ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh imam Malik, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Nasa’i dari Abu Hurairah yang menyatakan : “Sungguh, seandainya kamu mencari kayu seikat yang dibawa di atas punggung (untuk kemudian dijual) , lebih baik bagimu daripada minta minta kepada seseorang yang mungkin diberi atau ditolak.”
Hadis ini dengan tegas melarang umat Islam untuk menjadi pengemis, yang bekerja dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.
Berkaitan dengan berbagai bentuk akhlakul karimah, Ibnu Miskawaih menunjukkan berbagai macam kebajikan sebagai berikut :
1. Kearifan

  • Pandai (al-dzaka), kecepatan dalam mengembangkan kesimpulan yang melahirkan pemahaman
  • Ingat (al-dzikru), kecepatan dan kemampuan berimajinasi
  • Berfikir (al-ta’aqqul), kemampuan untuk menyesuaikan antara ide dengan realitas
  • Kejernihan pikiran (shafau al-dzihni), kesiapan jiwa menyimpulkan hal yang dikehendaki.
  • Ketajaman dan kekuatan otak (jaudat al-dzihni), kemampuan jiwa untuk merenungkan masa lalu atau sejarah.
  • Kemampuan belajar dengan mudah (suhulat at-ta’allum), kekuatan dan ketajaman jiwa dalam memahami sesuatu.

2. Kesederhanaan

  • Rasa malu (al-haya’)
  • Tenang (al-da’at)
  • Sabar (as-shabru)
  • Dermawan (al-sakha’)
  • Integritas (al-hurriyah)
  • Puas (al-qana’ah)
  • Loyal (al-damatsah)
  • Berdisiplin diri (al-intizham)
  • Optimis atau berpengharapan baik (husn-al-huda)
  • Kelembutan (al-musalamah)
  • Anggun berwibawa (al-wiqar)
  • Wara’

3. Keberanian

  • Kebesaran jiwa
  • Tegar
  • Ulet
  • Tabah
  • Menguasai diri
  • Perkasa

4. Kedermawanan

  • Murah hati (al-karam)
  • Mementingkan orang lain (al-itsar)
  • Rela (al-nail)
  • Berbakti (al-muwasah)
  • Tangan terbuka (al-samahah)

5. Keadilan

  • Bersahabat
  • Bersemangat sosial (al-ulfah)
  • Silaturrahmi
  • Memberi imbalan (mukafa’ah)
  • Baik dalam bekerja sama (husn al-syarikah)
  • Kejelian dalam memutuskan persoalan (husn al-qadha)
  • Cinta (tawaddu)
  • Beribadah kepada Allah
  • Taqwa kepada Allah

Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa untuk mencapai martabat manusia sempurna, manusia harus memiliki syarat syarat sebagai berikut :
  1. Isyqo Muhabbat, artinya kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah yang akan melahirkan rasa kasih sayang terhadap makhluk-makhluk-Nya.
  2. Syaja’ah, artinya keberanian yang tertanam di dalam pribadi seseorang sehingga berani beramar ma’ruf nahi munkar.
  3. Faqr, artinya orang yang memiliki pendirian yang teguh dan perwira sehingga mempunyai rasa kemandirian yang tinggi, tidak suka tergantung kepada orang lain.
  4. Tasamuh (toleransi), artinya semangat tenggang rasa yang ditebarkan diantara sesama manusia sehingga mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan.
  5. Kasbi halal, artinya usaha-usaha yang sesuai dengan ketentuan agama (halal).
  6. Kreatif, artinya selalu mencari hal-hal barun untuk meingkatkan kualitas kehidupan.
ANCAMAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN MODERN 
Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa paling tidak ada tiga macam ancaman terhadap akhlak manusia dalam kehidupan modern dewasa ini, yaitu ananiyyah, madiyyah dan naf’iyyah.
Ananiyyah artinya individualisme, yaitu faham yang bertitik tolak dari sikap egoisme, mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri. Orang orang yang berpendirian semacam ini tidak memiliki semangat ukhuwah Islamiyah, rasa persaudaraan dan toleransi (tasamuh) sehingga sulit untuk merasakan penderitaan orang lain. Padahal seseorang baru dikatakan berakhlak mulia tatkala ia memperhatikan nasib orang lain juga.
Madiyyah artinya sikap materialistik yang lahir dari kecintaan pada kehidupan duniawi yang berlebihan. Hal demikian dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Hud (11) : 15-16 yang berbunyi :
Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan., Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.”

Naf’iyyah artinya pragmatis yaitu menilai sesuatu hanya berdasarkan pada aspek kegunaan semata. Ketiga ancaman terhadap akhlak mulia ini hanya akan dapat diatasi manakala manusia memiliki pondasi aqidah yang kuat dan senantiasa melakukan amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
REFERENSI 
  • Al-Qur’an al-Karim
  • Marzuki, Dr. M.Ag, Buku PAI UNY.
  • M. Junaidi Sahal, 1421 H, Seri Kumpulan Materi Aqidah Islam, Surabaya : MPPU Madani .
  • Nasruddin Razak, 1996, Dienul Islam, Bandung : PT. Alma’arif. Cet. 13.
  • Tim UII, 2002, Menuju Kemantapan Tauhid dengan Ibadah dan Akhlakul Karimah, Yogyakarta : UII Press Jogjakarta.
  • Zaki Mubarok Latif, dkk., 2001, Akidah Islam, Yogyakarta : UII Press.













Pengertian Akhlak menurut Bahasa dan Istilah

Akhlak yaitu keadaan/ situasi jiwa seorang yang menyebabkan terjadinya perbuatan seorang dengan gampang. Akhlak mengindikasikan berarti perbuatan itu baik.

Akhlak berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata khuluq, berarti perangai atau mungkin perilaku. Pengertian akhlak dalam bahasa Indonesia keseharian biasanya disamakan dengan budi pekerti atau mungkin kesusilaan atau mungkin sopan santun.

Pengertian akhlak menurut istilah, adalah kehendak jiwa manusia yang menyebabkan perbuatan dengan gampang lantaran rutinitas tanpa ada pertimbangan pikiran lebih dulu, berarti perbuatan yang bakal dikerjakan yang memiliki kandungan kebaikan tak memakai pemikiran serta saat yang lama.

Lantaran akhlak yaitu adalah satu pengetahuan yang menuturkan baik serta jelek, menerangkan apa yang semestinya dikerjakan serta adalah jalan untuk lakukan perbuatan ataupun menyebutkan maksud dalam perbuatan. Karena, perbuatan, sikap serta pemikiran seorang itu baik pasti jiwanya baik jika jiwanya baik bermakna akhlaknya baik juga, begitupun sebaliknya jika jiwanya jelek, maka jelek pulalah akhlaknya.

 
Jadi untuk tahu baik serta buruknya akhlak seorang itu lewat perbuatan, sikap serta pemikirannya serta pemikirannya yang berbentuk lahiriyah.

Pembagian Akhlak Dalam Islam Dan Macam Macamnya

Pembagian Akhlak Dalam Islam Dan Macam Macamnya – Akhlak atau tingkah laku tidak terlepas dari kehidupan manusia. Ada akhlak yang disebut dengan akhlakul karimah atau akhlak terpuji dan ada pula akhlak tercela atau akhlak yang buruk. Setiap manusia berperangai baik atau buruk tergantung dirinya sendiri, karena yang menggerakkan kesemua itu adalah diri sendiri dan benar-benar berasal dari hati nurani tanpa ada pemikiran yang matang. Semoga kita senantiasa tergolong orang-orang yang berakhlakul karimah dan menjauhi akhlak yang tercela karena selain dosa, akhlak tercela sangat merugikan orang lain.

Pembagian Akhlak Dalam Islam

Ada 2 pembagian akhlak yaitu akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
  1. Akhlak Mahmudah
    Yakni akhlak terpuji atau akhlak yang baik. Contohnya : pemaaf, sabar, ikhlas, menepati janji, qonaah, jujur, penyayang, pemurah, baik hati, husnudzon dan lain sebagainya. Dimana akhlak mahmudah ini semuanya membawa kebaikan dan tidak merugikan orang lain. Karena setiap akhlak terpuji ini telah ada tuntunan dan ajarannya baik dalam Al-Qur’an ataupun Hadits nabi. Dari Imam Malik berkata “setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam ialah malu“. Malu merupakan dasar akhlak manusia, karena dengan memiliki rasa malu pada Allah SWT maka akan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan keji.
     
    Pembagian Akhlak Dalam Islam Dan Macam Macamnya

  2. Akhlak Madzmumah
    Yakni akhlak tercela atau perbuatan yang buruk. Contohnya : 
    • Riya’: Beramal atau melakukan suatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapat pujian orang, dengan kata lain riya’ sama artinya dengan pamer.
    • Sum’ah:  Melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.
    • Ujub: Mengagumi diri sendiri
    • Takabur: Membanggakan diri sendiri karena merasa dirinya jauh lebih hebat dibandingkan orang lain.
    • Tamak: Serakah atau rakus terhadap apa yang ingin dimiliki.
    • Malas: Enggan melakukan sesuatu.  
    • Fitnah: Mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya. Memfitnah merupakan salah satu dosa yang sangat dilarang oleh agama karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
    • Bakhil: pelit, medit dan tidak suka membagi atau memberikan sesuatu yang dimiliki pada orang lain
Demikian penjelasan singkat mengenai “Pembagian Akhlak Dalam Islam Dan Macam Macamnya“, semoga dapat memberikan manfaat. Sekian terimakasih :)

Pengertian Akhlak Dalam Islam Terlengkap

Pengertian Akhlak Dalam Islam Terlengkap – Membicarakan soal akhlak takkan pernah habis, karena dalam kehidupan sehari-hari, baik mulai dari diri sendiri, dalam keluarga, masyarakat, dan bersosialisasi dengan siapapun pasti tidak terlepas dari akhlak. Apa yang dilakukan sudahkah pantas dan sesuai dengan syariat Islam. Tentu dalam semua agamapun mengajarkan tentang perilaku yang baik-baik, apalagi dalam agama Islam, semua hal dari yang kecil sampai hal terbesar telah dijelaskan dan ada ajarannya secara jelas, gamblang dan dicontohkan langsung oleh nabi Muhammad. Kata “akhlak” memiliki makna dan arti yang sangat luas untuk segala tindak tanduk, atapun perilaku kehidupan sehari-hari. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasannya dibawah ini.
 
Pengertian Akhlak Dalam Islam Terlengkap

Pengertian Akhlak

Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yaitu ” Al-Khulk ” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan.  Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Sedangkan menurut para ahli, pengertian akhlak adalah sebagai berikut:
  • Menurut Ibnu Maskawaih : Menurutnya akhlak ialah “hal li nnafsi daa’iyatun lahaa ila af’aaliha min ghoiri fikrin walaa ruwiyatin” yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
  • Menurut Abu Hamid Al Ghazali : Akhlak ialah sifat yang terpatri dalam jiwa manusia yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang dan mudah tanpa memikirkan dirinya serta tanpa adanya renungan terlebih dahulu. 
  • Menurut Ahmad bin Mushthafa : Akhlak merupakan sebuah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan, dimana keutamaan itu ialah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan yakni kekuatan berpikir, marah dan syahwat atau nafsu.
  • Menurut Muhammad bin Ali Asy Syariif Al Jurjani : Akhlak merupakan sesuatu yang sifatnya (baik atau buruk) tertanam kuat dalam diri manusia yang darinyalah terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa berpikir dan direnungkan.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Qolam ayat 4 dikatakan bahwa “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung“. Dan dalam sebuah haditspun dikatakan bahwa ” Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia“. 
Sehingga jelas bagi umat Islam diseluruh alam berpatokan pada akhlaknya nabi Muhammad SAW. Akhlak terpuji yang ada dalam diri Rasulullah SAW patut kita jadikan contoh dan suri tauladan yang baik. Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak islamiyah. Jika manusia telah berakhlakul karimah atau akhlak yang baik, mulia, terpuji InsyaAllah hidupnya akan jauh lebih baik. 
Demikian penjelasan singkat tentang “Pengertian Akhlak Dalam Islam Terlengkap“, semoga bermanfaat. Baca juga artikel mengenai Bacaan Doa Mujarab Saat Sakit Tak Kunjung Sembuh, Tips Mendidik Anak Secara Islami, dan 7 Kalimat Yang Dipandang Mulia Disisi Allah Dan Malaikat. Sekian terimakasih.